8.7.14

Menghadapi Kritikan dan Pembenci di Media Sosial














Halo, teman-teman semua. Aku ingin berbagi sedikit pengalamanku selama aktif di socmed atau media sosial ini.


Beberapa hari yang lalu—atau beberapa minggu yang lalu, aku lupa hehe—ketika aku bangun tidur, aku dikagetkan dengan pemberitahuan e-mail masuk yang banyak, nggak kayak biasanya. Aku cek, isinya Twitter semua, tentang twitku di-retweet lah, ada yang nge-follow lah. Aku kaget kan, karena itu nggak biasa banget. Aku seketika langsung bangkit dan mengaktifkan laptopku untuk membuka Twitter. Saat aku membuka Twitter, benar, ada banyak banget orang yang ngeritwit twitku beberapa hari yang lalu, ada juga beberapa yang nge-follow. Ada juga yang bilang avaku mirip Indri Giana. LOL. Hahaha padahal avaku waktu itu juga pakai makeup, jadi jelas kelihatan beda lah :D nah, orang-orang itu meritwit twitku yang sama, twitku yang nge-mention salah satu desainer muslimah terkenal di Indonesia dengan menyertakan quote dari desainer itu yang aku kutip sendiri. Aku berpikir, apa mungkin desainer itu meritwit twitku? Tapi, kok nggak ada notif-nya?

Iseng, aku membuka profil desainer itu. Aku scroll down, dan... YA AMPUN! Benar twitku diritwit sama beliau. Aku senang bukan main. Aku sangat bersyukur juga, karena gegara diritwit itu, orang-orang makin mengenal aku, dan alhamdulillah banget pengikutku bertambah. Kebanyakan yang nge-follow itu yang pada Islami banget, yang twitnya hampir Islami semua, hahaha. Aku ngerasa, apa pantas akunku ini di-follow oleh orang-orang hebat seperti itu, yang ikut "berdakwah" di media sosial? Apa pantas? Ya, mau gimana lagi, aku harus terima bebanku yang agak bertambah itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah aku harus mulai mengontrol twitku, agar lebih pantas, nggak boleh mengumpat (tapi memang biasanya nggak pernah gitu kok, hehe), nggak boleh ngeluh-ngeluh lagi (walaupun memang udah mengurangi dari dulu), ngetwit yang penting-penting aja, dan ngetwit yang lebih dewasa, mungkin bisa share kata-kata bijak/quotes. Ada perasaan takut di-unfollow dalam diriku kalau aku nggak mencoba berubah. Ada juga perasaan, akankah aku kehilangan secuil keasyikan masa remaja di socmed? Soalnya, teman-temanku banyak yang masih ngetwit ala anak remaja gitu lah. Aku juga merasa, mungkin memang nggak papa aku mencoba berubah, insya Allah bisa menginspirasi teman-teman dengan random thoughts-ku, atau tentang quotes yang aku bagikan.

Aku pernah sekali ngetwit soal random thought-ku tentang ketidakpantasan perempuan berjilbab untuk membicarakan rambutnya di depan cowok atau di socmed. Alhamdulillah diritwit oleh entah bapak-bapak entah mas-mas (memang nggak tau umurnya haha) yang nge-follow aku gara-gara twitku diritwit oleh desainer terkenal itu.

Namun, nggak selamanya aku ngerasain hal positif di socmed.
Dua hari yang lalu, aku sedang menonton film Islami yang diadaptasi dari novel salah satu penulis terkenal pada tahun sekitar 20-an sampai 30-an. Aku ngetwit tentang rasa "geregetan" yang aku rasakan ketika nonton film itu, karena kasihan sama tokoh utama, agak ngerasa gimana gitu, geregetan banget sama masyarakat sana yang memang masih kuno. Itu pendapatku. Nggak lama kemudian, ada mas-mas (atau bapak-bapak sumpah aku nggak ngerti) yang bilang, justru dengan kekunoan mereka, mereka menjaga norma daerah mereka, ke aku. Ya entah maksudnya mengkritik aku yang memang tinggalnya nggak di pulaunya beliau—yang kebetulan sama dengan latar tempat film itu—atau orang itu cuma menyampaikan pendapatnya aja ke aku. Aku ngerasa, aku kayak ditegur atas pendapatku sendiri itu. Ya memang, beruntungnya masyarakat yang kuno karena menjaga norma itu ya begitu. Norma mereka masih terjaga, nggak kayak zaman sekarang yang orang-orang itu kadang udah nggak ngerti lagi tentang norma daerahnya sendiri. Aku balas aja, "Haha betul, beda sama jaman sekarang yang udah banyak lupa dengan norma sendiri," aku balas aja dengan nada yang ramah, walaupun deep inside (tsah) emang ngerasa agak gimana gitu. Orang itu bales lagi, "Ya semoga mbak nggak lupa juga ya," hm, aku tambah ngerasa kaget digituin. Mungkin memang dasarnya aku agak susah nerima kritik karena sifatku yang terlalu sensitif ini. Entah kritik atau nggak bermaksud bikin aku gimana gitu, aku balas ramah aja, "Amin amin hahaha."

Aku nggak ngerti itu wujud kritikan atau cuma bicara biasa aja, tapi aku ngerasa itu kayak teguran buat aku. Aku memang agak kesusahan untuk membiasakan diri dengan dunia maya ini yang nggak kalah keras sama dunia nyata. Kita salah dikit, mudah ditegur orang. Kita harus lebih mengontrol perilaku kita, itu sudah jelas. Sifatku ini yang lumayan sensitif dengan omongan orang yang aku nggak akrab, atau orang asing ini lumayan mempersulitku untuk membiasakan diri. Harus lebih "kebal" dengan kritikan orang, apalagi di usiaku yang udah remaja ini, yang harus mulai kenal kerasnya dunia. Walaupun aku menganggap orang tadi itu mengkritik aku, aku tetap mau husnudzon/berprasangka baik. Aku anggap, orang itu justru mendoakan aku agar selalu ingat norma-norma yang berlaku di Indonesia ini.

Kritikan nggak cuma aku rasakan dari orang asing, tapi dari teman aku sendiri juga. Ada yang mengomentari lukisanku yang menurut dia sudah lebih bagus daripada sebelumnya. Aku nggak ngerasa itu adalah sebuah pujian. Rasanya itu memang sakit digituin, apalagi kita kayak mikir, "Emangnya kamu udah bagus?" Hahaha. Ya, aku nggak pengen justru mencela orang-orang seperti itu, aku memilih untuk mendoakan dia biar dia menjadi pribadi yang lebih baik. Hal seperti itu justu memacuku untuk menjadi orang yang lebih baik.

Aku merasa, baru segini aja nyaliku sudah hampir ciut, bagaimana kalau seandainya aku jadi orang-orang terkenal, contohnya artis? Seperti Mulan Jameela, yang akun Instagram-nya penuh oleh celaan? Hm, nggak usah artis deh, coba fashion blogger, atau selebgram? Mereka tidak seterkenal artis tapi pengikutnya banyak sekali di Instagram. Mereka juga sering dikritik, bahkan dicela, kan? Tapi mereka nggak masalah, tuh. Mau nggak mau, mereka harus membiasakan diri, dan tetap menanggapi kritikan dengan keramahtamahan. Masa iya, pencitraan kita di depan orang-orang mau rusak? Jujur, kita nggak mau, kan, punya haters? Yang paling penting itu, pencitraan kita di depan Allah swt. Pencitraan di sini bukan berarti kita berpura-pura di hadapan Allah swt. agar terlihat baik. Tidak mungkin, karena Allah swt. Maha Tahu. Haha. Maksudku adalah, kita harus bisa jadi insan yang sebaik mungkin juga.

Orang semakin dikenal, semakin berat pula beban yang ditanggungnya. Karena kita dituntut untuk dapat berperilaku sebaik mungkin. Jadi, nggak selamanya terkenal itu enak.

Ya, haters gonna hate. Namun, buatlah haters itu menjadi pemacu kita untuk menjadi yang lebih baik. Doakan pula agak mereka menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Usahakan kita harus bisa bertindak baik dengan para haters. Aku selalu ingat kata-kata Bapak ketika menasihatiku sehingga aku hampir menangis karena terharu. Entah aku kebiasaan, setiap diberi semangat oleh orang aku selalu terharu, hehe.

Jadilah seperti kuda. Karena kuda itu semakin sering dicambuk, larinya semakin kencang.




Semoga berhasil! Good luck!

-Nisrina Amalia Paramanindya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar