17.7.14

Cara Menghilangkan Background Abu-abu pada Header Blog


Hai. Kali ini aku pingin share ilmu yang barusan aku dapetin dari blog luar negeri. Jadi, tadi aku barusan mengganti header blog ini. Tapi, kok tiba-tiba berubah menjadi abu-abu, ya, background-nya? Padahal tadinya background header-ku ini putih. Ternyata, ini semua ada hubungannya dengan pengaturan Google+ ku. Berikut caranya untuk menghilangkan latar berwarna abu-abu pada header blog.


  1. Pergi ke pengaturan Google+ kamu, atau klik di sini.
  2. Scroll sampai kamu menemukan "koreksi otomatis".
  3. Ganti dari "normal" menjadi "nonaktif".
  4. Kalau sudah, unggah ulang gambar/foto yang akan menjadi header-mu itu.
  5. Coba cek blogmu. Kalau kamu benar melakukannya, background abu-abu akan kembali menjadi putih.

Koreksi otomatis masih "normal"

Koreksi otomatis diubah menjadi "nonaktif"



Itulah sedikit tips tentang Blogger dariku, semoga bermanfaat, ya! Kalau ada yang salah, tolong komentar di bawah entri ini, sehingga aku bisa memperbaikinya. Makasih banyak!


Semoga berhasil!
- Nisrina Amalia Paramanindya



8.7.14

Menghadapi Kritikan dan Pembenci di Media Sosial














Halo, teman-teman semua. Aku ingin berbagi sedikit pengalamanku selama aktif di socmed atau media sosial ini.


Beberapa hari yang lalu—atau beberapa minggu yang lalu, aku lupa hehe—ketika aku bangun tidur, aku dikagetkan dengan pemberitahuan e-mail masuk yang banyak, nggak kayak biasanya. Aku cek, isinya Twitter semua, tentang twitku di-retweet lah, ada yang nge-follow lah. Aku kaget kan, karena itu nggak biasa banget. Aku seketika langsung bangkit dan mengaktifkan laptopku untuk membuka Twitter. Saat aku membuka Twitter, benar, ada banyak banget orang yang ngeritwit twitku beberapa hari yang lalu, ada juga beberapa yang nge-follow. Ada juga yang bilang avaku mirip Indri Giana. LOL. Hahaha padahal avaku waktu itu juga pakai makeup, jadi jelas kelihatan beda lah :D nah, orang-orang itu meritwit twitku yang sama, twitku yang nge-mention salah satu desainer muslimah terkenal di Indonesia dengan menyertakan quote dari desainer itu yang aku kutip sendiri. Aku berpikir, apa mungkin desainer itu meritwit twitku? Tapi, kok nggak ada notif-nya?

Iseng, aku membuka profil desainer itu. Aku scroll down, dan... YA AMPUN! Benar twitku diritwit sama beliau. Aku senang bukan main. Aku sangat bersyukur juga, karena gegara diritwit itu, orang-orang makin mengenal aku, dan alhamdulillah banget pengikutku bertambah. Kebanyakan yang nge-follow itu yang pada Islami banget, yang twitnya hampir Islami semua, hahaha. Aku ngerasa, apa pantas akunku ini di-follow oleh orang-orang hebat seperti itu, yang ikut "berdakwah" di media sosial? Apa pantas? Ya, mau gimana lagi, aku harus terima bebanku yang agak bertambah itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah aku harus mulai mengontrol twitku, agar lebih pantas, nggak boleh mengumpat (tapi memang biasanya nggak pernah gitu kok, hehe), nggak boleh ngeluh-ngeluh lagi (walaupun memang udah mengurangi dari dulu), ngetwit yang penting-penting aja, dan ngetwit yang lebih dewasa, mungkin bisa share kata-kata bijak/quotes. Ada perasaan takut di-unfollow dalam diriku kalau aku nggak mencoba berubah. Ada juga perasaan, akankah aku kehilangan secuil keasyikan masa remaja di socmed? Soalnya, teman-temanku banyak yang masih ngetwit ala anak remaja gitu lah. Aku juga merasa, mungkin memang nggak papa aku mencoba berubah, insya Allah bisa menginspirasi teman-teman dengan random thoughts-ku, atau tentang quotes yang aku bagikan.

Aku pernah sekali ngetwit soal random thought-ku tentang ketidakpantasan perempuan berjilbab untuk membicarakan rambutnya di depan cowok atau di socmed. Alhamdulillah diritwit oleh entah bapak-bapak entah mas-mas (memang nggak tau umurnya haha) yang nge-follow aku gara-gara twitku diritwit oleh desainer terkenal itu.

Namun, nggak selamanya aku ngerasain hal positif di socmed.