31.1.13

Sarimin "Terzalimi"


Oke, kali ini aku akan bercerita suatu hal yang berhubungan dengan Nia (sahabatku) kembali, setelah sebelumnya aku pernah mengepos ini.

Aku mempunyai hobi yang unik, yaa... banyak lah yang memiliki hobi yang asyik tiada tara ini. Namun, jarang orang mengategorikan atau bahkan menyadari bahwa ini adalah sebuah hobi. What's that? Jahil. Usil.

Si manis jembatan ancol Sonia Dwita Prafitri ini sering menjadi sasaran jahilku. Kenapa? Aku tidak tahu betul, tetapi asyik saja. Ya, mungkin salah satu faktornya adalah mukanya yang melas namun manis ini.

Agenda mengerjai Nia yang pernah kulakukan (seingatku saja):

  1. Tadi, ketika Nia sholat Dhuhur (waktu itu aku dan Oik sudah selesai duluan) aku dan Oik bersekongkol menyembunyikan kaos kaki Nia di bawah semak-semak dekat tempat wudhu di sekolah kami, dan juga memasukkan dedaunan ke dalam sepatu Nia.
  2. Yang ini aku masih geli sampai sekarang: tadi, ketika Nia sholat Ashar, aku pengen memasukkan (kembali) dedaunan ke sepatunya Nia, namun rencana itu digagalkan oleh Oliv yang sekarang menjadi "The Bocor-girl" entah kesambet apa. Selain itu, Nia juga melihatku sedang memetiki dedaunan, alhasil, gagal. Tapiii, aku punya ide lagi. Saat Nia sudah khusyuk sholat, aku menyembunyikan gitar Nia di balik tembok dekat laboratorium Fisika, dan menukarnya dengan sapu. Aduh, ini salah satu ide brilianku. Ya, kamu tahu lah, bentuk gitar dan sapu sebelas-duabelas.
  3. Selalu menyorakinya—kalau guru yang mengajar memungkinkan untuk aku jahil, karena beberapa guru ada yang serius—ketika Nia disuruh maju atau disuruh Pak Yudhi untuk memainkan gitar, dengan memanggilnya "Sarimin" dan "ihiy... ihiy!"
  4. Bersekongkol dengan beberapa teman untuk memasukkan cabai rawit dan potongan wortel ke dalam dosgripnya Nia. Itu juga salah satu ide brilianku. Beberapa hari kemudian (atau seminggu?) Nia baru menyadari kalau ada cabai rawit yang saat itu sudah bosok alias busuk di dalam dosgripnya. Ha-ha-ha.
  5. Memegangi pergelangan kakinya. Suer, dia akan berteriak-teriak geli. Aku biasanya melakukan ini bersama Oliv dan Oik. Kadang ia juga berkata, "Nggak geli, nggak geli!" untuk membuat kami melepaskan tangan kami dari kaki Nia, tapi sayangnya dia masih gerak-gerak dan menunjukkan sikap kalau dia "geli", sehingga kami tentu saja tidak percaya :-D
  6. Menarik ujung kerudungnya (jelas tidak sampai copot ._.).
  7. Saat akan ulangan IPS materi "Peristiwa Sekitar Menjelang dan Sesudah Proklamasi", aku sedang menghapalkan nama-nama gubernur dari 8 provinsi. Dan, saat aku melihat nama "R. Panji Suroso" yaitu gubernur Jawa Tengah dahulu, aku langsung berlari ke Nia dan mengatakan, "Eh, Ni, kamu liat, deh, gubernur Jawa Tengah. Kalo mau ngapalin itu berarti inget Jogja ada di Jawa Tengah, nah di Jogja tu ada kamu, kamu punya bapak namanya 'Pak Imam Suroso', inget, deh, 'R. Panji Suroso'. Cukup inget kamu aja, deh!" Ha-ha-ha.
Ya, itu yang kuingat. Kalau aku ingat lagi atau ada cerita baru lagi, insya Allah kalau inget aku tulis, deh.

Tampang ala pencuri yang was-was ketahuan *aduh pis mbak*
Unyu yang ini!
Nia di taman bunga~
Cantik, nih,narsis pula! Ha-ha-ha

Aku dan Nia
Nia dan aku

"Let us be grateful to people who make us happy, they are the charming gardeners who make our souls blossom." - Marcel Proust

2 komentar:

  1. Postingannya diintip noh, sama korbannya. Wkwk. Btw miris ya, aku._.

    BalasHapus