3.1.13

Everlasting Love from Pak Habibie & Almh. Bu Ainun (2)


"Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun.."ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya.. Saya mau kasih informasi. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu… 

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…
Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan…
Dik, kalian tau. 2 minggu setelah ditinggalkan ibu, suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun ………….. Saya mencari ibu di semua sudut rumah."
Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini, "Kita (para dokter) harus tolong Habibie" Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan:
1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!
2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus…
3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.
"Saya pilih opsi yang ketiga… Inilah yang sanggup saya berikan sebagai hadiah kepada istri saya, almarhum Ainun. Bagi saya hikmah menulis buku ini bisa menjadi terapi untuk mengobati kerinduan, rasa tiba-tiba kehilangan seseorang yang selama 48 tahun 10 hari berada dalam kehidupan saya, karena antara saya dan Ainun adalah 2 raga tetapi 1 jiwa...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar