28.12.12

Mysterious LOL Man

Kejadian ini terjadi beberapa menit yang lalu sebelum kumenulis entri ini.

Ketika itu, aku sedang bermain laptop di kamar, dan tiba-tiba Mbak Narti, yang membantu keluarga kami bersih-bersih rumah, mendatangiku dan berkata, "Mbak, ada yang mau masak mie boleh, nggak? Orangnya tuh laper."

Aku agak takut untuk mengiyakan pertanyaan Mbak. Aku agak takut bila ada orang asing terutama tidak biasa seperti kali ini masuk rumahku, mengingat berbagai macam orang-orang yang 'aneh' pernah menyambangi rumahku, alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Apalagi, dahulu, aku berkali-kali salah ketika menanggapi orang-orang asing yang datang. Seharusnya, aku tidak berkata "rumah kosong" atau memberitahu nama orang tuaku, tetapi kumalah melakukannya. Aku menjadi sangat waspada, mengingat aku berkali-kali mendapat peringatan dari ibuku karena banyak kecerobohanku waktu itu.

"Cuma mau masak mie kok, Mbak, terus pergi." kata Mbak Narti menenangkan. Akhirnya aku mengiyakan.

"Tutup pintu (pintu kamar), ya, Mbak, aku takut." kataku.

"Ya."

Beberapa saat kemudian, Mbak Narti mendatangiku kembali dan membuat tawaku meledak. Ternyata, seseorang yang berpakaian seperti menganut Islam yang taat tadi telah diusir Mbak Narti. Um, sedikit 'kejam' menurutku, ha-ha-ha. Kenyataannya, Mbak Narti sangat jengkel dengan orang itu. Mbak Narti pun menceritakan kejadian tadi.

"Misi... misi...." Seorang pria membuka pagar rumahku sebelah barat.

Mbak Narti mendatangi pria itu. "Iya, ada apa, Mas?"

"Saya mau numpang masak mie, saya lapar sekali dari kemarin belum makan."

"Oh. Udah bawa mie?"

"Udah. Saya bawa sendiri."

"Ya udah, ayo masuk kompornya di situ."

Ketika sudah berada di dapur, sepertinya ekspresi cemas sekaligus melas terlihat dari wajah orang asing tadi.

"Saya ambilin mangkoknya terus masak sendiri, ya." Mbak Narti mengambilkan mangkok. Tiba-tiba orang asing itu sudah berada di belakang Mbak Narti dan membuat Mbak Narti terperanjat kaget.

"Saya kurang pandai memasak, masakin, ya, Mbak."

"Enak wae emang e aku pembantumu?" Merasa orang tadi bisa ditinggal sendirian di dapur, Mbak Narti pergi ke kamarnya. Orang asing itu mengikuti Mbak Narti lagi sampai mau masuk kamar.

"Heh, kowe arep ngopo? Awas nek macem-macem! Aku teriak, lho! Ono ibu nang kamar!"

"Eh, jangan-jangan, maaf, Mbak. Saya tidak pandai memasak."

"Wo, emang e aku pembantumu njaluk dimasakke? Wis njaluk tulung malah ngelunjak. Wis, lunga, lunga!"

"Maaf, maaf."

"Maaf... maaf!" Emosi Mbak Narti mulai meledak. Pria tadi meraih kembali barang-barangnya dan beranjak pergi, ke luar melewati garasi. Mbak Narti mengikuti dari belakang, hendak mengunci pintu.

"Heh, kuwi kok kuncine arep mbok gowo? Emang e iki omahmu?" Mbak Narti kesal karena orang tadi malah mengunci garasi dan mengantongi kunci garasiku.

"Oh, iya, lupa, maaf, Mbak, maaf, Mbak!"

Orang itu pergi dan Mbak Narti langsung menutup pagar serta garasi.

Selain memelas, orang itu juga beberapa kali berdzikir, mengucap "subhanallah" dan "masya Allah". Mbak Narti yang terlanjur kesal berkata, "Malah nganggo dzikir!" Ha-ha-ha... Sungguh kocak. Aku agak kasihan sebenarnya, seharusnya ditolong dan Mbak Narti sebaiknya lebih sabar, tapi Mbak Narti juga kocak. Ha-ha-ha.

Akan kuceritakan pada ibuku :-)

1 komentar:

  1. MBAKMU + MAS2NYA KOCAK ABIS! KALO AKU DI SANA BAKAL GULING2 :-P

    BalasHapus