28.12.12

Funny-Rainy (Special "Habibie & Ainun" the Movie)


Hari ini, aku mengisi hari-hari liburanku dengan menonton sebuah film karya sutradara Faozan Rizal. Aku sudah menginginkan menonton film ini lumayan lama, karena sahabatku, Nia, menceritakan film yang masih "coming soon" pada saat itu kepadaku dan teman-temanku. Akhirnya, film yang kutunggu-tunggu itu main juga, pada tanggal 20-12-2012. Angka yang lebih cantik daripada 12-12-12 menurutku.

Sayangnya, impianku untuk menonton pada hari itu juga tertunda. Tentu saja tidak mungkin bila setelah aku menonton film yang tak kalah apik, yaitu "5 cm." langsung menonton film lain lagi. Ini masalah uang saku *pokerface*. Tentang 'uang', aku jadi teringat, aku mempunyai hutang dengan tanteku ketika aku membeli tiket, jagung berondong, dan softdrink tadi. Ya, ya, ya. Kutunggu kau, Ibu pulang dari kantor (tahu maksudnya, kan? :-D), dan besok akan kuganti uang milik Tante. Oke. Kembali ke curcol topik.

Siang itu aku ditelpon oleh Budhe Ina (ibu Mbak Denis) bahwa tidak ada mobil yang 'menganggur' di garasi rumah Eyang, karena semua mobil terpakai, termasuk mobil milik Budhe Ina yang akan dipakai untuk ke Malioboro. Untungnya, Budhe mempunyai inisiatif.

"...Gimana kalo kamu, Tante, Denissa (Mbak Denis), sama Haidar nanti Budhe drop aja di bioskop? Ya kalo enggak tanya bapakmu mau, enggak, nganter ke bioskop."

"Oh iya, sebentar, ya, Budhe." Aku langsung menghampiri Bapak. Sepertinya Bapak mboten kersa. *tumben Jowo* :-))

"Halo, Nis?" tanya Budhe, saking lamanya aku bercekcok dengan Bapak.

"Eh, iya, Budhe?"

"Gini aja, Budhe drop, ya, nanti."

"Iya, Budhe. Makasih."

Setelah Tante Ocha, Mbak Denis, dan Haidar sedang o-te-we (on the way), Budhe Ina menelpon lagi dan menyuruhku berada di depan untuk siap-siap akan masuk mobil, karena hujan. Agar lebih cepat dan mudah. Bapak juga berpesan agar Mbak Narti disuruh menutup pagar agar aku tidak kehujanan (mungkin maksud Bapak, ribet kalau aku yang menutup pagar sambil bawa payung). Aku mengiyakan. Ketika aku berlari ke kamar Mbak (kebiasaanku, terkadang bergaya ninja pula ala Inas), tiba-tiba....



GUBRAK!!! Aku meluncur dari depan kamar mandi Mbak sampai kamar Mbak. Meluncurnya tidak disengaja, Kawan (baca: terpeleset). Sungguh, aku merasakan menjadi seorang Rasyida yang 'meluncur' karena terpeleset minumnya sendiri waktu itu. Yang terkena lantai duluan adalah tulang ekorku. Tentu sakiiit. Lalu kedua sikuku. Rasanya sakit semua, aku langsung bangkit dan duduk, sambil berkata, "Sakit...." Raut wajah cemas, takut, dan kasihan terlihat dari wajah Mbak Narti. Untung saja, Mbak Narti tidak menertawaiku! Untung pula, aku tidak menangis. Ha-ha-ha. Tak lupa tujuanku ke sana adalah menyampaikan pesan Bapak. Sambil menahan rasa sakitku dan ekspresi tak karuan melasnya, aku berkata dengan agak tidak jelas dan bertele-tele, karena tidak konsentrasi. Setelah agak baikan, aku berdiri dan bersiap-siap kembali.

Baru hendak berlatih piano, sebuah mobil berwarna krem datang. Oh, pasti itu Mbak Denis, pikirku. Aku segera meraih tas, dan merasakan ada rasa perih dari sebuah jariku sebelah kiri. Ternyata, ketika kulihat adalah... DARAH! Ternyata ada luka pasca kejadian 'meluncur' indah menyakitkan tadi. Sangat disayangkan :'(

Segera aku masuk mobil dengan dipayungi Mbak Narti, lalu bercakap-cakap ria. Tentu saja menceritakan kejadianku tadi. Ha-ha-ha.

Sesampainya di bioskop, kami mengalami kejadian lucu lagi. Parkir sepertinya penuh, karena antrean mobil sampai luar dan agak panjang. Untung saja kami hanya di-drop. Pak Didin, sopir Mbak Denis berkata kepada Bapak Ojek Payung, "Pak, mau nge-drop aja." Bapak itu tetaaap... saja tidak mengerti. Tapi tetap, kami dipersilakan masuk. Pak Didin kembali berkata seperti tadi, namun kali ini diperjelas dengan "mau nurunkan". Nah, sekarang Bapak Ojek Payung mengerti. Belum diparkirkan mobilnya di depan lobby, malah Bapak Ojek Payung menyiapkan payungnya di depan pintu mobil sebelahku. Sontak semua tertawa, kecuali aku (hanya sedikit) dan Haidar. Aduh, Pak, maksudnya tolong, dong diarahkan ke depan lobby atau di manapun tempat yang pas untuk menge-drop, bukan di sini dan memakai jasa Bapak! Langsung saja Pak Didin mengarahkan mobilnya ke depan lobby.

Kami turun, dan melihat antrean orang-orang panjaaang sekali. Ketika kami turun, kami diperhatikan oleh mereka. Sedikit malu. Namun kami serasa artis yang berjalan di red carpet dengan lautan paparazzi. Ha-ha-ha. Kami sudah khawatir kalau itu antrean "Habibie & Ainun".  Oh, ternyata acara nonton gratis. Okelah. Tiket "Habibie & Ainun" pasti masih banyak. Kami mengantre dan mendapatkan 4 tiket "Habibie & Ainun" pukul 14.40. Kami membeli aneka snack dan minuman, lalu menunggu sembari lesehan di dekat Theater 1. Ini mau nonton, kok nggak dikasih kursi, ya? Ha-ha-ha.

Beberapa menit sebelum jam 14.40 Theater 1 telah dibuka. Kami masuk cukup awal. Setelah acaranya dimulai, kami mulai mengambil sedikit demi sedikit banyak demi banyak popcorn kami, terutama aku dan Haidar. What a great movie. Filmnya kocak plus mengharukan. Aku suka. Aku sedikit heran pada Mbak Denis yang di tengah-tengah sudah menangis. Apa yang ditangisi? Aku menyesal karena adegan itu aku tidak menghayatinya, sehingga tidak paham, padahal aku juga ingin menangis. Ha-ha-ha. Aku mulai menangis di akhir cerita. Ketika Almh. Ainun sakit. Aku dan Mbak Denis sampai terisak-isak. Lebih parah aku, sepertinya, ha-ha-ha. Tetapi, menangisnya lebih parah Mbak Denis! Wakakak... Aku harap bisa menonton film ini dua kali atau lebih. Hingga kupuas dan bosan. Bayang-bayang Jerman dan keharmonisan rumah tangga Pak Habibie dan Almh. Bu Ainun masih menari-nari di benakku. Sebuah film yang sangat kurekomendasikan. Aku harap, kelak aku dapat seperti mereka, bahkan lebih (tentu saja tentang cinta sejatinya, bukan sakitnya, Kawan). Amin.

Sangat disayangkan ketika menonton ada dua anak lelaki yang berkeliaran lari-lari sambil bermain di bawah layar. Anak-anak itu tentu saja tidak dapat menonton film seperti itu. Mereka juga membuat kegaduhan. Mana merusak suasana yang haru, menurut Mbak Denis, ha-ha-ha. Aku tidak menyalahkan anak-anak itu, aku SANGAT menyalahkan ibunya *emosi*. Seharusnya sang ibu lebih bertanggug jawab dan perhatian pada anaknya, serta peka terhadap lingkungan. Anak-anak itu juga sempat di-"sssshhhh" oleh orang-orang. Kurang apa, coba? Semua orang jelas sudah terganggu. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

Oh, iya, pesan dariku, ketika menonton film ini jangan lupa membawa tisu yang banyak. Oke? Ha-ha-ha. Jangan sepertiku yang mengandalkan kerudungku. Bagaimana bila kamu tidak memakai kerudung? Tentu saja "derita lo", ya, kalau tidak bawa tisu. Ha-ha-ha, just kidding ;-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar